Mengkaji ulang wadah kreatifitas mahasiswa sekarang ini sepertinya tak pernah berujung. Konsep ideal yang selama ini diharapkan seringkali mencapai titik gamang setelah masuk pada bahasan fungsi dan peran mahasiswa. Untuk tidak sekedar melewatkan resah ini, ada dua penawaran yang relatif bisa dijadikan sebagai batu loncatan; pertama, wadah kreatifitas mahasiswa diorientasikan semata-mata sebagai tempat belajar tanpa ada variabel lain yang menyertainya. Kedua, menjadikan wadah kreatifitas mahasiswa sebagai laboratorium partisipatif terhadap rangkaian fenomena social, dengan menyumbangkan pikiran, kepandaian, pengetahuan dan pertimbangannya. Atau dengan kata lain, kreatifitas mahasiswa tersebut mengembangkan pola belajar dan pola kerja kolektif dengan menggali pemikiran/ kajian yang lebih serius.
Di Indonesia, perkembangan kreasi mahasiswa berdiri pada labirin ketidak pastian; tidak sebagai solusi konkret bagi masyarakat atau sebagai pembaharu dalam pembangunan potensi daerah. Kreasi mahasiswa bergerak tanpa kerangka acuan pengelolaan, hingga pada tingkat aksi membuat beberapa kelompok mahasiswa kehilangan ‘karakter perjuangannya’, juga ‘bargainingnya’ terasa lemah di tengah arus persaingan ketat industri dan globalisasi. Harus diakui bahwa kebesaran sebuah institusi mahasiswa dibangun dengan relasi ketergantungan ‘nasionalisme almamater’. Belum lagi stigma masyarakat bahwa mahasiswa yang bermodalkan moral dan idealisme, dimana secara ironis ‘mars’ yang gegap gempita menjadi jargon para awak kampus. Walaupun tak dapat disangkal, bahwa instiutsi mahasiswa tidak dapat melepaskan idealismenya sebagai fitrah kaum intelektual, bahakan sebuah perjuangan (baca; orientasi visi) mesti dengan basis idiologi yang jelas agar tidak terjebak dalam opportunity movement. Pada dataran pengejawantahan idealisme diperlukan kreatifitas dan skill yang matang dalam pengelolaannya.
Perubahan paradigma mahasiswa dapat diawali secara transisional dari konsep ideal untuk praksis di masyarakat. Mahasiswa memandang profesinya sebagai pilihan terhormat untuk memenuhi hak masyarakat akan informasi sehingga mempunyai bekal yang cukup untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut hidup mereka. Hal ini sebagai wujud penegasan posisi secara independen; bebas dari kekuasaan politik ataupun kekuatan modal.
Eksistensi kita di dalam masyarakat yang terus berkembang sekarang ini, tidak mungkin membuat kita berposisi netral (tepatnya masa bodoh), bila menghadapi masalah yang menyangkut nilai-nilai dasar; seperti kebebasan, demokrasi,gender dan hak asasi manusia. Itu sebabnya mahasiswa Indonesia tak sudi untuk tunduk pada kekuasaan yang sewenang-wenang. Ketika rezim anti demokrasi memberangus mahasiswa, mahasiswa kita tak pernah diam berpangku tangan atas nama netralitas. Kita berjuang untuk menyingkirkan tatanan represif, yang menyumbat kebebasan itu. Bahkan, ketika sikap itu memerlukan pengorbanan, kita siap menanggung bebannya. Bahwa menjadi mahasiswa membutuhkan pengorbanan bahkan kalau perlu seperti pengorbanan darah seorang jenderal.
Akhirnya, hal diatas hanya menyanggupi diri sebagai sebuah gagasan. Dimana sebuah gagasan, konon akan selalu terbentur pada dua pilihan; memenuhi kebutuhan praktis, tapi compang-camping secara intelektual atau matang secara konsep tapi terlambat merealisasikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar